Islamic Center

Islam adalah agama yang paling sempurna olehkarena itu saya membuat blog ini.

Antara Sunnah Hasanah dan Sunnah Sayyi’ah

Orang yang mengklaim dirinya sebagai orang yang menisbatkan dirinya kepada Salafush Shalih, lalu mengklaim sebagai Salafiyah itu dalam kefanatikan buta, rasio/pemikiran yang mandul, pemahaman yang sempit -karena memerangi setiap sesuatu yang baru dan mengingkari setiap temuan yang berguna dengan alasan bahwa itu adalah bid’ah. Padahal ruh syari’at Islam mengharuskan kita agar kita membedalan macam-macam bid’ah dan mengatakan bahwa sesungguhnya sebagian dari bid’ah itu adalah Bid’ah Hasanah (yang baik) dan sebagian lagi adalah Bid’ah Sayyi’ah (yang buruk). Pendapat inilah yang sesuai dengan aqal sehat dan pandangan yang tepat.

Demikianlah keterangan yang telah ditahqiq (diteliti dengan sungguh-sungguh) oleh ulama ushul fiqh radhiyallahu ‘anhum dari kalangan salaf, seperti Al-’Izz bin Abdus Salam, An-Nawawi, As-Suyuthi, Al-Mahalli dan Ibnu Hajar.
Hadits-hadits Nabi antara satu dengan yang lainnya adalah saling menjelaskan dan melengkapi. Untuk itu kita harus memandangnya secara utuh dan komprehensif serta dipahami dengan ruh syari’at dan definisinya yang telah disepakati oleh para ulama ushul fiqh. Maka dari itu, kita banyak menemukan hadits-hadits yang membutuhkan penafsiran aqal yang cerdas, pemikiran yang tepat, pemahaman yang cocok dan hati yang peka yang diambil dari lautan syari’at yang mulya (dengan tetap memelihara kondisi ummat dalam batasan-batasan kaidah agama dan teks-teks Al-Qur`an dan hadits Nabi).
Sebagai contoh adalah hadits, “Setiap bid’ah adalah sesat.” Maka harus dikatakan bahwa yang dimaksud dengan bid’ah dalam hadits itu adalah bid’ah yang buruk, yang tidak termasuk dasar-dasar syari’at.
Pembatasan ini banyak kita temukan dalam hadits Rasulullah SAW. Seperti hadits, “Tidak ada shalat di hadapan makanan.” Para ulama berkata, “Ya’ni shalat yang sempurna.” Dan bukannya tidak ada sholat sama sekali secara keseluruhan di hadapan makanan.
Atau dalam hadits yang lain, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” Para ulama berkata, “Ya’ni iman yang sempurna.” Dan bukannya tidak ada iman secara menyeluruh bagi orang yang belum mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Jika dimaknai tidak ada iman sama sekali secara keseluruhan, maka kafirlah orang yang belum mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.
Demikian juga hadits, “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman,” lalu dikatakan kepada Rasul, “Siapa wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Orang yang kejahatannya membuat tetangganya merasa tidak aman.”
Demikian juga hadits, “Tidaklah masuk surga tukang fitnah atau atau adu domba (namimah)” atau “Tidaklah masuk surga orang yang memutuskan silaturahim dan orang yang durhaka kepada orangtuanya.” Para ulama berkata, “Sesungguhnya tidak masuk surga orang yang menghalalkan perbuatan itu.” Dan bukan orang yang melakukannya dengan mengakui bahwa perbuatan-perbuatan tersebut haram.
Kesimpulan: Para ulama salaf tidak memahami hadits hanya dari lahiriyahnya saja, tetapi mereka juga menakwilkannya dengan berbagai macam takwil.
Sedangkan hadits yang menerangkan bid’ah ini, termasuk hadits-hadits yang menjadi pembahasan utama seperti di atas, maka keumuman hadits dan kondisi para shahabat telah memberikan arti bahwa yang dimaksud dengan bid’ah di dalam hadits tersebut adalah bid’ah yang jelek.
Dalam suatu hadits disebutkan, “Barangsiapa membuat suatu kebiasaan yang baik, maka baginya pahala amal itu dan pahala orang yang melakukannya sampai hari kiamat.” Nabi malah memberi penghargaan bagi mereka yang membuat kebiasaan baru yang baik, dan tidak melarangnya.
Dalam hadits yang lain, “Kalian harus mengikuti sunnahku (kebiasaanku) dan sunnah (kebiasaan yang dibuat) Khulafaur Rasyidin.” Nabi mengajrkan kepada kita agar kita mengikuti sunnah beliau dan juga sunnah (kebiasaan) Khulafaur Rasyidin. Artinya, kedua macam sunnah tersebut dijamin hasanahnya. Jika sunnah itu adalah sunnah yang dibuat oleh Rasul atau Khulafaur Rasyidin, maka sunnah itu adalah hasanah. Adapun sunnah yang dibuat oleh yang selain beliau-beliau itu tidak mendapat jaminan ini, namun bukan berarti tidak boleh diikuti. Hanya saja, perlu diteliti apakah sunnah itu termasuk sunnah hasanah yang boleh kita ikuti ataukah sunnah sayyi’ah yang perlu kita hindari.
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata tentang shalat tarawih berjama’ah, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Jika Sayyidina Umar memahami bahwa semua bid’ah dalam agama itu buruk, maka tidak mungkin ucapan seerti ini keluar. Namun beliau memahami bahwa bid’ah itu ada yang baik, dan, “sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Beliau juga memahami bahwa shalat tarawih berjama’ah itu adalah hal yang baru. Karena pada kenyataannya, shalat tarawih berjama’ah bukanlah kebiasaan yang dianjurkan oleh Rasul. Bahkan Rasul hanya shalat berjama’ah selama tiga malam. Itu pun tanpa beliau menganjurkannya. Bahkan setelah malam yang ketiga, beliau malah menghentikan shalat tarawih berjama’ah. Rasul tidak menganjurkannya, bahkan rasul menghentikannya. Maka wajarlah jika Sayyidina Umar mengklaim bahwa shalat tarawih berjama’ah itu adalah perkara baru, dan perkara yang baru itu bid’ah. Namun, shlat tarawih berjama’ah adalah bid’ah hasanah.
(Sumber: Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajibu An Tushohhaha)

0 komentar:

Posting Komentar

.
.
.

Browser Islam Center

Islami Jam ..

Blog Saya ^_^

# Blog ini saya buat untuk menambah wawasan semua orang yang masuk ke blog saya. Untuk itu saya berharap agar blog saya ini bisa bermanfaat bagi semua orang.
# Terima Kasih.

Follower ^_^

jejak - jejak kawan | islamicenter

Menu Link

Transtool

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Visitor..

cursor

Penyejuk Hati

Kata Mutiara

Welcome ..... Selamat Datang !!! semoga dapat bermanfaat dengan menambah pengalaman dan pengetahuan anda . Berterimakasihlah kepada Allah S.W.T yang telah memberikan sesuatu yang lebih kepada kita .TeRIma kASih ... TKJ Muhammad Fatchur Rizqon